Minggu, 28 Juni 2015

Yaa Salaam

Pernah suatu ketika di fase galau dalam hidup aku seorang psikiater, Dr.dr.Tubagus Erwin memberi saran untuk berdzikir asmaul husna, Yaa Salaam. Yang artinya adalah pemberi kedamaian. Dibaca di setiap pagi, siang dan malamku. Dengan dzikir ini, mudah-mudahan Allah memberikan rasa damai, keselamatan, dan perlindungan pada kita. InsyaAllah.

"Dialah Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maharaja, Mahasuci, Mahasejahtera, Maha menjaga, Maha memelihara, Mahaperkasa, Mahakuasa, yang memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Al-Hasyr 59:23)

Dalam kisah Nabi Ibrahim AS, hiduplah pada masa itu raja Namrud yang zhalim di Babilonia. Ia bermimpi bahwa akan lahir seorang bayi lelaki yang akan meruntuhkan kekuasaannya. Namrud lalu memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir.

Azar dan istrinya yang tengah mengandung ketakutan. Azar segera memerintahkan istrinya untuk bersembunyi dalam gua, hingga saat kelahiran bayi laki-lakinya yang tampan yang dinamainya Ibrahim. 
Ibrahim kecil tinggal sendirian dalam gua itu selama 5 tahun. Namun demikian Allah swt memberikannya keselamatan, perlindungan dan perdamaian kepada Ibrahim, sehingga ia selamat dan tidak diganggu binatang buas.

Inilah bukti bahwa Allah swt adalah Maha Pemberi Kedamaian, keselamatan dan perlindungan.

Wallahualam
(Reminder, note to myself)

Senin, 12 Januari 2015

Hamba & penciptanya


















Seringkali di malam-malam yang sunyi, saat semua tengah bermimpi, saya masih di sini. Di depan komputer laptop. Mencoba menghabiskan waktu agar tak ada lagi rasa gelisah dan khawatir dalam hati. Kadang berhasil. Namun seringkali tidak. Pada akhirnya, saat sempat tidur, atau tidak sempat tidur pun, bila sudah beranjak menjelang dini hari, saya berwudhu. Setelah sempurna mengenakan mukena, dan berusaha khusyu', saya memulainya dengan bacaan Allahu Akbar... Allah Maha Besar... Engkaulah Maha Penyayang dan Pengasih... Tenangkanlah hati dan jiwaku agar hamba bisa beristirahat, dan agar esok hamba masih bisa berkarya dan bermanfaat bagi orang-orang terdekat dan tersayang. Ya Allah yang Maha Membolakbalikkan hati, angkatlah kegelisahan hamba, hilangkanlah kegundahan hamba, hamba sandarkan hati hamba dan anak-anak hamba kepada Engkau yang Maha Suci... apa jadinya hamba, bila malam-malam tanpa tidur itu hamba lewatkan tanpa bisa bersujud mendekat kepadaMu. 


A song by Opick

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu  💕
aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu

~Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Karena hati telah letih
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati Oh……..
Bayangmu seakan-akan …………~

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu oh
Kau seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi

~Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu Oh ……….
Kau seperti udara yang kuhela
Kau selalu ada, selalu ada, dan selalu ada
Yang selalu ada dan selalu ada ………..~



Kamis, 18 Desember 2014

Nasehat diri

Saya tidak pernah berpikir untuk menasehati seseorang tentang sesuatu, tentang keyakinan yang saya anut. Saya pikir setiap orang adalah merdeka. Bebas menentukan keyakinannya. Berhak meyakini pilihannya.

Hanya saja, pernah suatu ketika saya merasa tersudur karena suatu kejadian. Selalu saja saya mencoba bertahan. Berusaha berpikir positif. Dengan apapun itu caranya. Misalnya, refleksi diri dan belajar lagi tentang diri sendiri. Belajar di jaman modern tentu lebih mudah. Cukup satu jari, maka "mbah Google" akan segera mengantarkan kita pada informasi yang kita butuhkan. Bacaan demi bacaan akhirnya menghasilkan sebuah tulisan comot sana sini. Bagian dari proses introspeksi diri sendiri. Saya pikir toh ini untuk tujuan pribadi dan bukan komersil.

Di kemudian hari, tulisan itu ternyata disenangi seseorang yang sangat berarti bagi saya. Padahal saya sendiri menganggapnya biasa saja. Tidak ada muatan istimewa. Tapi sudut pandang orang boleh berbeda. Menurutnya, tulisan itu sangat baik, dan bermanfaat.

Bermanfaat. Kata singkat tapi bermakna luas. Bermanfaat artinya bisa digunakan. Bisa memberikan manfaat. Bisa memberikan panduan. Menjadi acuan. Saya jadi tergugah. Selama ini tidak pernah berpikir lebih jauh tentang menulis sesuatu yang bermanfaat untuk dibagikan atau disampaikan.

Maka, disinilah saya sekarang. Mencoba menjalin kata demi kata. Bukan untuk seseorang. Bukan untuk siapa-siapa. Cukup untuk saya sendiri saja. Menasehati diri sendiri. Menjadi media bagi saya untuk menjadi lebih baik. Menjadi alat pengingat bagi saya, agar saya selalu sadar akan Dzat yang Maha Kuasa.

Terima kasih kepada dia, yang telah menginspirasi saya. Meskipun tidak sengaja. Bahkan dia sendiri mungkin tidak sadar. Saya tidak akan menjanjikan apa-apa. Tapi saya mau berusaha yang terbaik.

Bismillah...

Bukan penyesalan

Reposted: facebook 3 mei 2010

Ada satu masa. Saat usia saya berkisar antara 25 tahun hingga 30 tahun. Saya dicekam oleh ketakutan yang luar biasa. Rasa yang selalu menghantui di setiap siang dan malam yang saya lewati. Selalu merasa gelisah. Gelisah karena takut akan kematian.

Membayangkan bahwa kematian akan datang kapan saja. Tanpa pernah seorang pun tahu waktunya dengan pasti. Membuat saya dirundung rasa galau yang berkepanjangan. Pertanyaan demi pertanyaan selalu ada dalam pikiran dan tak berkesudahan. Kapan waktunya. Dimana tempatnya. Bagaimana terjadinya. Apa yang akan terjadi sesudahnya. Bagaimana saya bisa menghadapinya. Apa siksa kubur yang akan saya terima atas dosa-dosa saya. Pertanyaan terakhirlah yang paling menyiksa saya.

Yah, saya berusaha menjalani proses ini dengan ikhlas dan sabar. Mencari jawaban dari setiap pertanyaan. Membekali diri dengan ilmu kematian dan akhirat. Bertobat. Memperbaiki diri. Mengurangi iri, dengki dan kemarahan. Berusaha menjauhi setiap laranganNya. Dan tak ketinggalan berdoa.

Hingga usai masa itu. Saya kini memahami bahwa pada akhirnya proses manusia memang akan berakhir di situ. Berhenti hidup. Mati. Tak ada lagi embel-embel. Tak ada lagi cerita.

Pindah ke Lombok memberikan pengalaman batin luar biasa tentang kematian. Setiap hari saya selalu mendengar orang membacakan berita kematian dari pengeras suara masjid terdekat. Setiap hari selalu saja ada berita kematian akibat sakit, atau sering juga karena kecelakaan. Meski tetangga sekitar membicarakan perihal kematian seseorang. Akan tetapi sama seperti hari-hari lainnya saya beraktivitas seperti biasa. Semua menjalani proses alami itu. Tanpa halangan berarti.

Tiga pengalaman kematian yang sangat berbekas dalam benak saya dan sampai kapan pun tak dapat saya abaikan. Adalah kematian seorang kakak ipar, seorang tetangga dan keponakan suami.

Pengalaman pertama akan kematian adalah kakak ipar yang meninggal karena komplikasi ginjal. Meski ia seorang dokter ternyata ia sendiri tidak bisa menolak takdirnya. Ketika itu, saya baru saja masuk kuliah. Melekat dalam ingatan saya ketika jenazahnya disemayamkan di rumah kami. Dan saya merasa ketakutan. Lebih karena cerita-cerita horor dibalik suatu kematian. Sesudah peristiwa itu saya beberapa kali bermimpi didatangi olehnya, seolah-olah ia minta didoakan.

Pengalaman kedua adalah tentang tetangga kami yang tinggal di kampung. Ia seorang pemuda masjid. Dalam artian, ia seorang yang sholeh. Waktunya sering dihabiskan di masjid. Sholat dan mengaji. Mendengarkan ceramah. Berdiskusi agama. Ia sendiri tak punya pekerjaan tetap. Sering datang ke rumah kami dan ikut bantu-bantu dengan imbalan ala kadarnya atau ikut makan siang dan malam. Anak-anak saya dekat dengannya. Ia termasuk orang yang sabar terhadap anak-anak saya. Sehingga ia disayangi oleh anak-anak dan ibu-ibu. Ia juga sering mengajari anak-anak mengaji dan belajar IQRA. Hingga di suatu pagi yang sepi. Tiba-tiba seseorang datang tergopoh-gopoh ke rumah kami dan memberitahukan kabar buruk itu. Pemuda itu ternyata menjadi korban tabrak lari. Ia ditabrak truk yang lari dengan kecepatan tinggi . Padahal daerah kami termasuk daerah ramai. Saya cukup sedih karena saya punya cita-cita baginya. Saya ingin mengajaknya bekerja. Saya juga ingin memintanya mengajari anak2 saya mengaji. Tetapi semua harus pupus karena kehendakNya.

Kemudian kematian keponakan suami. Dalam keluarga anak ini dianggap nakal. Baru kelas satu SMP dan tinggal hanya dengan kakak tirinya. Kedua orang tuanya menetap di Sulawesi. Pada suatu pagi hari Minggu. Tanpa berpamitan, ia pergi dengan anak pak RT tetangga kami naik sepeda motor. Tak dinyana, nasib mereka naas. Sebuah angkot menabrak mereka juga dengan kecepatan kencang. Anak pak RT yang membawa motor, seketika meninggal di tempat. Sang keponakan berhasil diselamatkan. Tapi ia mesti bersabar hingga baru setahun kemudian dia bisa sembuh dari.patah kaki. Siapa nyana, ketika pulang sehabis bermain bola di rumah kami bersama anak-anak saya. Ia merasakan sakit kepala yang luar biasa dan langsung muntah-muntah tak berhenti. Ia pun dibawa ke rumah sakit. Namun rupanya setelah 3 hari nyawanya tak tertolong. Apa penyakitnya pun belum bisa terdeteksi. Ibu dan ayahnya tak sempat melihatnya. Saya sempat menungguinya, menghiburnya, mendoakannya dan menyaksikan ketika maut mendekatinya dan akan menjemputnya. Saya serasa ingin menariknya kembali pulang. Tapi tak kuasa. Hanya doa yang saya bisa ucapkan. Dan air mata saya pun terus mengalir ketika mendengar igauan-igauannya dan kerinduannya pada sang Ibu. Tanpa mampu menolongnya. Kita hanya bisa melihat. Kita hanya bisa menyaksikan. Kita hanya bisa terdiam. Sungguh, sekali lagi saya dipaksa berhadapan dengan takdir Allah dan harus menerimanya. Setelah kepergiannya, para tetangga menyampaikan berbagai cerita baik tentangnya yang membuat kami merasa bahwa memang inilah jalan terbaik baginya.

Bukan maksud saya menakut-nakuti atau berbangga diri. Saya yakin diantara teman-teman saya ada yang mempunyai pengalaman yang lebih luas dibandingkan dengan saya. Saya hanya mau mengingatkan bahwa inilah kenyataan, harus kita terima dan ikhlaskan. Ternyata kita memang fana dan tak berdaya.

Ada suatu pemahaman dalam diri saya, bahwa pada akhirnya kita memang akan pulang. Pulang ke rumah. Pulang ke sebenar-benarnya Rumah. “The Truly Home”. Kata pulang dan rumah pun sudah berkonotasi indah, tenang, nyaman dan damai. Ingatlah selalu bahwa kita tak bisa mendahului apa yang telah digariskanNya, siapa yang mendapat giliran lebih dulu, bagaimana caranya, kapan waktunya akan selalu menjadi rahasiaNya. Berusahalah kita sebaik-baiknya. Bersikap seolah-olah inilah kali terakhir kita bertemu dengan orang-orang terkasih kita. Sehingga kita menjaga sikap, menjaga perasaan, tidak menyakitinya dan selalu berusaha membahagiakannya. Anggaplah ini merupakan kali terakhir kita bertemu mereka. Sehingga kita akan berusaha melakukan yang terbaik yang bisa kita bagi kepada orang-orang yang kita sayangi. Siapa pun dia. Entah itu bagi suami atau istri, anak-anak, orang tua, mertua, saudara, ipar, maupun teman dan tetangga kita. Dan kenang-kenangan yang terindah dan terbaiklah yang akan tinggal. Bukan penyesalan.